Minggu, 01 Februari 2015

TOKOH

Menteri Perhubungan: Ignasius Jonan 

        Ignasius Jonan heboh marah-marah pada direktur Air Asia beberapa hari yang lalu dan kemudian menyebabkan Menteri Jonan banyak disorot media. Menteri Jonan memang terkenal tegas sehingga Jokowi memilihnya menjadi Menteri Perhubungan. Lantas, bagaimanakah perjalanan karir serta profil Menteri Jonan ini? Mari kita cari tahu lebih lanjut! 
     Ignasius Jonan akan bekerja sebagai Menteri Perhubungan (Menhub) di era Kabinet Kerja Jokowi-JK selama 5 tahun ke depan (2014-2019). Nama Menteri Jonan mungkin belum begitu familiar di telinga masyarakat Indonesia. Beliau adalah mantan Direktur Utamadari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Pria kelahiran Singapura, 21 Juni1963 ini memiliki prestasi yang cukup gemilang saat menjabat sebagai Dirut PT KAI. Beliau diangkat sebagai Direktur Utama PT. KAI pada tahun 2009 oleh Menteri BUMN, Sofyan Djalil, meskipun belum pernah berkarier di bidang bisnis transportasi. Selama di PT Kereta Api Indonesia, Beliau sukses membalikkan kerugian Rp 83,5 miliar pada 2008 menjadi keuntungan Rp 154,8 miliar pada 2009. Pada tahun 2013, bahkan telah mencatatkan laba sebesar Rp 560,4 miliar. Jonan juga melipatgandakan aset KAI dari Rp 5,7 triliun pada 2008 menjadi Rp 15,2 triliun pada 2013, atau dengan kata lain terjadi peningkatan sebanyak tiga kali lipat. Pada masanya juga dimulai pemberantasan percaloan tiket dengan menerapkan sistem boarding pass dan penjualan melalui toko ritel. Toilet stasiun yang awalnya harus membayar, saat ini digratiskan dan diperbanyak jumlahnya sehingga ada di setiap stasiun. Kereta juga dilengkapi AC dan diberi larangan merokok. 
     Berkebalikan dengan citranya yang murah senyum dan senang turun ke lapangan, Menteri Jono ternyata keras dalam hal kedisiplinan. Di tahun 2014, tercatat 200 karyawan PT KAI dipecat atau pensiun dini karena dianggap malas. Beliau juga tidak mengenal kompromi saat menertibkan stasiun dari pedagang dan bangunan liar dengan menggunakan bantuan aparat TNI. 
     Namanya mencuat sebagai calon Menteri Perhubungan setelah tersebarnya berita bahwa Beliau tak pulang 15 hari dan tidur di kereta untuk mengawasi pelayanan PT KAI. Dahlan Iskan, Menteri BUMN waktu itu, mendoakan agar Jonan diangkat menjadi Menteri Perhubungan.Doa ini terkabul saat Jonan ditunjuk menjadi Menteri Perhubungan dalam Kabinet Kerja. Setelah diangkat menjadi Menteri Perhubungan dalam Kabinet Kerja, Beliau mengundurkan diri dari PT KAI dan digantikan Edi Sukmoro. 
    Langkah pertamanya sebagai menteri adalah dengan menugaskan Dirut KAI selanjutnya, Edi Sukmoro, untuk meningkatkan kapasitas kereta api dari 200 juta orang menjadi 600 juta orang dan angkutan barang menjadi 60 juta ton dalam lima tahun ke depan dari sebelumnya 30 juta ton. Jonan juga menjanjikan akan menyelesaikan konsep tol laut dalam waktu dua minggu setelah menjabat. Beliau juga memberlakukan piket bergiliran pada Hari Sabtu dan Minggu di Kementerian Perhubungan. 
    Ignasius Jonan mewajibkan piket kerja akhir pekan (Sabtu-Minggu) kepada seluruh jajaran kementeriannya. Bahkan, Jonan siap untuk melakukan apa yang telah ditetapkannya tersebut. Beliau memposisikan sebagai pegawai yang terkena kebijakan baru itu. Pria lulusan Fletcher School, Tufts University, Amerika Serikat ini beranggapan bahwa dirinya ikut piket akhir pekan sebagai wujud pemerataan beban kerja bagi seluruh pegawai Kemenhub. Jonan mewajibkan surat elektronik dan website Kemenhub harus selalu online, termasuk comment center. 
    Semoga Ignasius Jonan bekerja dengan baik saat menjabat sebagai Menteri Perhubungan serta dapat memperbaiki pelayanan publik khususnya dalam hal transportasi massal. Tentu kita sebagai Bangsa Indonesia harus selalu mendukung kebijakan-kebijakan yang diambil selama itu baik untuk kemajuan Bangsa Indonesia. 

(ALW) 
*dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar